CNN Indonesia
Jumat, 27 Mar 2026 17:45 WIB
Ilustrasi. Studi menemukan, 56 persen informasi kesehatan mental di medsos tidak akurat, terutama di TikTok. (iStock/tadamichi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Banyak informasi kini tersebar melalui media sosial, termasuk soal kesehatan mental. Tak heran jika kini banyak orang mendiagnosis dirinya sendiri (self diagnose) mengidap kondisi mental tertentu.
Tapi, kini kamu tak boleh lagi asal percaya dengan informasi kesehatan mental di media sosial. Studi terbaru menemukan, lebih dari setengah unggahan media sosial tentang kesehatan mental mengandung informasi yang salah, terutama di TikTok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip Euro News, sebanyak 56 persen dari 5 ribu unggahan media sosial tentang autisme, ADHD, skizofrenia, gangguan bipolar, depresi, gangguan obsesif kompulsif (OCD), dan gangguan cemas ditemukan tidak akurat dan tidak berdasar.
Para peneliti menemukan, unggahan tentang autisme dan ADHD justru mengandung kesalahan informasi yang lebih tinggi dibandingkan kesehatan mental lainnya.
"Ini menunjukkan betapa mudahnya video yang menarik dapat menyebar luas secara online, bahkan ketika informasinya tidak selalu akurat," ujar salah satu penulis studi dari East Anglia University, Inggris, Eleanor Chatburn.
Para peneliti menganalisis 27 studi yang menyelidiki keakuratan informasi kesehatan mental dan neurodivergensi (autisme dan ADHD) di berbagai paltform media sosial, termasuk YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, dan X.
Penelitian menemukan, misinformasi secara konsisten lebih tinggi terjadi di TikTok dibandingkan platform lain. Sebesar 52 persen video TikTok tentang ADHD disebut misinformasi, dan 41 persen video TikTok tentang ADHD yang tidak akurat.
Sementara YouTube rata-rata mengandung 22 persen informasi yang salah, sedangkan Facebook rata-rata hanya di bawah 15 persen.
Chatburn juga mengatakan, media sosial telah menjadi tempat penting bagi banyak anak muda mencari informasi tentang kesehatan mental.
"Konten TikTok dikaitkan dengan meningkatkan keyakinan di kalangan anak muda bahwa mereka mungkin memiliki masalah kesehatan mental atau gangguan perkembangan saraf," ujar Chatburn.
Pada dasarnya, pencarian informasi di media sosial bisa menjadi langkah awal yang baik. Namun, hal tersebut harus dilanjutkan pada pemeriksaan klinis dengan profesional.
Dalam beberapa tahun terakhir sendiri, sebenarnya kesadaran akan kesehatan mental semakin meningkat, utamanya di kalangan remaja. Media sosial berperan besar dalam fenomena ini.
Namun sayangnya, fenomena ini berujung pada self diagnose. Nama terakhir merupakan proses di mana seseorang mengamati sesuatu, seperti gejala, yang dialami dan mengidentifikasinya sebanyak penyakit tertentu tanpa melakukan konsultasi.
Menukil laman Universitas Tarumanegara, remaja menjadi kelompok yang paling rentan terhadap self-diagnose. Beberapa hal jadi penyebabnya.
Pertama, akses informasi yang mudah. Kedua, adanya keterbatasan waktu dan biaya untuk melakukan konsultasi dengan profesional. Ketiga, masih adanya stigma sosial terkait kesehatan mental membuat remaja enggan mencari bantuan.
Padahal, self diagnose bisa berdampak buruk hingga menimbulkan kecemasan berlebih. Tak jarang, gejala yang timbul sebenarnya merupakan ekspektasi dari gejala-gejala yang telah dibaca di media sosial.
Self diagnose juga bisa menghambat hubungan antara pasien dan terapis. Utamanya, jika hasil diagnosis profesional nyatanya berbeda dengan ekspektasi pasien.
(asr)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
3




























