Harga Minyak Dunia Tembus US$112 Buntut Serangan Fasilitas Energi Iran

1 hour ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan awal Kamis (19/3), setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat yang menargetkan fasilitas energi Iran di Teluk.

Harga minyak mentah jenis Brent crude oil naik menjadi US$112,00 per barel atau naik 4,27 persen, sementara West Texas Intermediate naik 2,73 persen menjadi US$98,95.

Lonjakan harga terbaru ini juga terjadi setelah Iran balas menargetkan infrastruktur energi di seluruh wilayah Timur Tengah, sebagai balasan atas serangan terhadap ladang gas South Pars yang menjadi cadangan gas terbesar di dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fasilitas tersebut memasok sekitar 70 persen kebutuhan gas domestik Iran, sehingga serangan memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Mengutip Al Jazeera, konflik juga telah menghentikan sebagian besar pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Gangguan ini diperkirakan menyebabkan penurunan produksi minyak di Timur Tengah antara  7 juta hingga 10 juta barel per hari, atau sekitar 7 hingga 10 persen dari permintaan global.

Serangan terhadap fasilitas South Pars terjadi pada Rabu (18/3), ketika roket menghantam area Zona Ekonomi Khusus Energi di Asaluyeh, selatan Iran. Televisi pemerintah Iran melaporkan serangan tersebut sebagai ulah musuh Amerika-Zionis.

Otoritas setempat langsung mengerahkan tim pemadam untuk mengatasi kebakaran akibat serangan.

Ladang gas South Pars sendiri merupakan proyek strategis yang terhubung dengan ladang North Dome milik Qatar, menjadikannya salah satu pusat energi terbesar di dunia.

Pasca serangan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan akan menargetkan infrastruktur energi negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk jika serangan terhadap Iran terus berlanjut.

Ancaman tersebut mencakup fasilitas minyak dan gas di negara seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, yang berpotensi memperluas gangguan pasokan energi global.

Iran juga dilaporkan melancarkan serangan balasan yang berdampak pada fasilitas energi di kawasan, termasuk kebakaran di fasilitas gas Ras Laffan di Qatar yang kemudian berhasil dikendalikan.

Konflik yang terus meningkat ini telah mengganggu ekspor minyak dan gas dari Timur Tengah serta memaksa penghentian produksi di sejumlah fasilitas energi.

Sejumlah negara seperti Irak, Oman, dan Uni Emirat Arab mengecam serangan terhadap fasilitas energi Iran, yang dinilai sebagai eskalasi berbahaya dan mengancam stabilitas kawasan.

Selain itu, ketegangan ini turut berdampak pada operasional fasilitas energi di berbagai negara, termasuk penghentian sementara aktivitas akibat risiko keamanan.

(anm/dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial