Diserang AS-Israel, Iran Balas Gempur Fasilitas Gas Negara Teluk

2 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membalas ancaman hingga meluncurkan serangan ke infrastruktur energi negara sekutu AS. Hal itu dilakukan setelah AS dan Israel menyerang fasilitas gas utama Iran di South Pars.

IRGC awalnya memperingatkan akan menargetkan fasilitas energi di negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS, termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami memperingatkan Anda bahwa serangan terhadap infrastruktur energi Iran adalah kesalahan besar," demikian pernyataan IRGC.

Dilansir dari The Guardian, ancaman tersebut disertai peringatan bahwa fasilitas energi di kawasan Teluk menjadi target langsung dan sah dan dapat diserang dalam waktu dekat.

Tak lama setelah itu, serangan balasan dilaporkan terjadi. Fasilitas gas Ras Laffan di Qatar dilaporkan terbakar akibat serangan rudal Iran, meski api kemudian berhasil dikendalikan.

Selain itu, Arab Saudi dilaporkan mencegat drone yang mengarah ke fasilitas energi di wilayah timur, sementara puing rudal juga dilaporkan jatuh di dekat kilang minyak.

[Gambas:Video CNN]

Serangan Iran juga berdampak pada fasilitas energi di Uni Emirat Arab, termasuk penghentian sementara operasional di beberapa lokasi, seperti yang dikutip dari CNN.

Iran meluncurkan serangan tersebut setelah roket menghantam fasilitas di Zona Ekonomi Khusus Energi South Pars di Asaluyeh, Iran selatan pada Rabu (18/3).

"Sebagian fasilitas gas yang terletak di Zona Ekonomi Khusus Energi South Pars di Asaluyeh dihantam roket yang ditembakkan oleh musuh Amerika-Zionis," demikian laporan televisi pemerintah Iran yang dikutip AFP.

Ladang gas South Pars/North Dome merupakan cadangan gas terbesar di dunia dan memasok sekitar 70 persen kebutuhan gas domestik Iran.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari AS maupun Israel. Namun militer Israel menyebut operasinya dilakukan dalam koordinasi erat dengan AS.

Harga minyak melonjak

Eskalasi serangan terhadap sektor energi ini memicu kekhawatiran global. Konflik tersebut meningkatkan volatilitas pasar energi dan memperbesar risiko terhadap ekonomi dunia.

Bank sentral Kanada bahkan memperingatkan bahwa konflik ini telah meningkatkan risiko terhadap ekonomi global akibat lonjakan harga energi dan ketidakstabilan pasar keuangan.

Harga minyak dunia melonjak mendekati US$110 per barel seiring meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, terutama di tengah blokade Selat Hormuz.

Gangguan ini dinilai berpotensi mengganggu pasokan energi global secara signifikan, mengingat kawasan Teluk merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.

Sejumlah negara, seperti Irak, Oman, dan UEA turut mengecam serangan terhadap fasilitas energi Iran. Mereka menilai penargetan infrastruktur vital sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam stabilitas kawasan dan keamanan energi global.

The Guardian juga menyebut serangan terhadap sektor energi Iran menandai eskalasi besar dalam konflik, yang sebelumnya relatif menghindari target langsung pada industri minyak dan gas.

Serangan ini dinilai sebagai awal dari apa yang disebut sebagai perang ekonomi penuh, dengan sektor energi menjadi sasaran utama kedua pihak.

Iran sendiri menegaskan akan terus membalas jika serangan terhadap infrastrukturnya berlanjut, bahkan dengan skala yang lebih besar

(anm/chri)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial