Bahlil Sebut Harga Pertamax Cs Masih Dikaji, Bakal Naik?

6 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, seperti Pertamax dan sejenisnya, masih dalam tahap pengkajian di tengah dinamika harga minyak dunia.

Ia mengatakan pemerintah masih melakukan perhitungan sebelum memutuskan penyesuaian harga.

"Mengenai dengan BBM yang RON 92, RON 95, RON 98, termasuk dengan solar yang Pertamina Dex, itu nanti kita akan melakukan penyesuaian setelah perhitungan selesai. Sekarang kita masih melakukan exercise," ujarnya dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (8/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Bahlil, arah kebijakan harga sangat bergantung pada pergerakan harga minyak mentah global. Ia berharap harga minyak bisa menurun agar berdampak pada harga BBM dalam negeri.

"Dan mudah-mudahan doakan agar betul harga ICP (Indonesian Crude Price/harga minyak mentah Indonesia) bisa turun. Itu akan jauh lebih baik lagi. Tapi sampai sekarang kita masih melakukan perhitungan dengan badan usaha seperti Pertamina dan swasta," kata dia.

Di sisi lain, pemerintah memastikan kondisi pasokan energi tetap aman, termasuk LPG.

"Menyangkut LPG, saya menyampaikan bahwa masa sulit kita untuk LPG sudah kita lewati sejak tanggal 4 (April). Alhamdulillah sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari. Sebentar lagi kapal kita masuk," ujarnya.

Bahlil juga menyebut ketergantungan impor energi dari Timur Tengah mulai dikurangi dengan mencari alternatif pasokan dari negara lain.

"Crude-nya sekitar 20-25 persen, dan kita sudah mampu mendapatkan penggantinya dari beberapa negara seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika, dan beberapa negara lain," ujar Bahlil.

Ia menambahkan komunikasi dengan berbagai pihak terus dilakukan untuk memastikan pasokan tetap terjaga, termasuk terkait kedatangan kapal impor dalam waktu dekat.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir 2026 meski harga minyak dunia meningkat akibat konflik di Timur Tengah.

Pemerintah disebut telah menyiapkan berbagai skenario perhitungan, termasuk jika harga minyak mencapai US$80 hingga US$100 per barel.

Dengan asumsi harga rata-rata minyak US$100 per barel sepanjang tahun, defisit APBN tetap dijaga di bawah 3 persen terhadap PDB, yakni sekitar 2,92 persen.

"Jadi sepanjang tahun ini dengan harga rata-rata US$100 aman," ujar Purbaya.

Ia menegaskan APBN akan menjadi bantalan untuk menjaga stabilitas harga energi, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kenaikan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar.

"Kami siap tidak menaikkan sampai akhir tahun untuk BBM subsidi dengan asumsi harga minyak US$100 per barel sampai akhir tahun sudah dihitung," ujar Purbaya.

[Gambas:Youtube]

(del/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial