Pakar Prediksi El Nino Super Teror Dunia, Rekor Panas Bisa Pecah

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Layanan iklim dan cuaca Eropa Copernicus dan NOAA sama-sama memperkirakan terbentuknya fenomena El Nino yang sangat kuat dalam beberapa bulan ke depan dan akan semakin menguat menjelang musim dingin.

Para ahli meteorologi memperkirakan hal tersebut akan meningkatkan suhu yang sudah tinggi di seluruh dunia, bahkan kemungkinan besar akan melampaui rekor tahun terpanas yang dicatat pada 2024.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

El Nino merupakan fenomena pemanasan alami dan siklikal pada sebagian wilayah Samudra Pasifik tengah yang memengaruhi cuaca di seluruh dunia.

Kondisi El Nino terbentuk ketika suhu di bagian tertentu lautan 0,5 derajat Celcius lebih hangat dari biasanya. Fenomena ini dianggap moderat pada 1 derajat Celcius dan kuat pada 1,5 derajat Celcius.

Baik NOAA maupun Copernicus memperkirakan El Nino kali ini akan jauh melebihi 2 derajat Celcius, dan mungkin menyaingi rekor yang tercatat pada 2015 dan 2016.

Profesor Meteorologi Universitas Northern Illinois Victor Gensini menyebut El Nino melepaskan panas yang tersimpan di lapisan atas lautan ke udara, yang menyebabkan suhu global naik, namun dengan jeda waktu beberapa bulan.

"El Nino yang kuat berpotensi mendorong suhu global ke level rekor baru pada akhir 2026 dan hingga 2027," kata Gensini, dikutip dari PBS, Jumat (10/4).

Menurut sebuah studi yang diterbitkan pada Desember lalu di jurnal Nature Communications, El Nino berskala besar sering memicu pergeseran pola iklim, yang mengubah kondisi normal menjadi pola yang berbeda selama bertahun-tahun atau puluhan tahun.

Studi tersebut menyebutkan bahwa setelah El Nino 2015-2016, Teluk Meksiko mengalami lonjakan ke tingkat kehangatan baru yang berkelanjutan. Kondisi tersebut kemungkinan berkontribusi terhadap terjadinya badai tropis yang lebih kuat di sepanjang Pantai Teluk pada tahun-tahun berikutnya.

Semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pemanasan global akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam mungkin memperkuat fenomena El Niño, namun para ilmuwan iklim menyatakan bahwa hal itu belum sepenuhnya menjadi konsensus.

"Pemanasan global semakin memperkuat fenomena El Nino dan pemanasan atmosfer yang ditimbulkannya," kata Dekan Fakultas Lingkungan dan ilmuwan iklim Universitas Michigan, Jonathan Overpeck.

"Kita telah menyaksikan hal ini pada tahun 2016 dan baru-baru ini pada tahun 2023. Kita kemungkinan akan menyaksikan lonjakan suhu global lagi jika El Nino yang kuat benar-benar terjadi pada akhir tahun ini seperti yang diprediksi," imbuhnya.

(lom/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial