Jangan Kalap saat Berbuka, Ini Dampaknya bagi Tubuh

5 hours ago 2

CNN Indonesia

Selasa, 10 Mar 2026 21:00 WIB

Makan berlebihan saat berbuka puasa bisa memicu gangguan pencernaan hingga lonjakan gula darah. Simak dampak dan cara mencegahnya. Ilustrasi. Jangan berlebihan saat berbuka, bisa berbahaya. (istockphoto/simon2579)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kebiasaan makan berlebihan saat berbuka puasa masih sering terjadi, terutama setelah seharian menahan lapar dan haus. Padahal, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa pola makan yang tidak terkendali saat berbuka dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga lonjakan gula darah.

Selama berpuasa, tubuh mengalami perubahan dalam cara memperoleh energi. Setelah cadangan karbohidrat habis digunakan, tubuh mulai memanfaatkan lemak dan protein sebagai sumber energi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada saat yang sama, aktivitas sistem pencernaan juga menurun karena tidak ada makanan yang diproses selama beberapa jam.

Ketika makanan masuk dalam jumlah besar secara tiba-tiba saat berbuka, sistem pencernaan yang sebelumnya beristirahat dapat mengalami beban mendadak. Kondisi ini bisa memicu sejumlah keluhan, seperti:

• Perut kembung

• Mual

• Kram perut

• Diare

Selain itu, melansir Nutri, makan terlalu banyak dalam waktu singkat juga dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Setelah berpuasa, tubuh cenderung lebih sensitif terhadap karbohidrat dan gula.

Jika makanan manis atau tinggi karbohidrat dikonsumsi dalam jumlah besar sekaligus, kadar gula darah dapat meningkat secara tajam.

Lonjakan gula darah ini kemudian diikuti pelepasan hormon insulin dalam jumlah besar. Akibatnya, kadar gula darah bisa turun dengan cepat setelah makan, yang sering memicu rasa lemas, mengantuk, atau kembali merasa lapar dalam waktu singkat.

Profesor gizi kesehatan masyarakat dari Obafemi Awolowo University, Beatrice Ogunba, menilai makan berlebihan saat berbuka merupakan salah satu kesalahan yang cukup sering dilakukan saat menjalani puasa.

"Makan berlebihan atau memakan semua makanan yang terlewat saat berbuka dapat menyebabkan asupan kalori berlebih dan berpotensi memicu kenaikan berat badan. Bersikaplah bijak dan fokus pada makanan yang kaya nutrisi daripada makanan berkalori tinggi," ujar Ogunba, seperti dikutip dari MSN.

Menurutnya, tubuh sebenarnya tidak membutuhkan asupan makanan dalam jumlah besar sekaligus setelah berpuasa. Yang lebih penting adalah memastikan tubuh mendapatkan nutrisi yang seimbang untuk memulihkan energi.

Pilihan makanan saat berbuka juga berperan penting dalam menjaga kestabilan energi. Konsumsi makanan tinggi gula dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula darah yang tajam.

Selain itu, makanan yang terlalu asam atau pedas sebaiknya tidak langsung dikonsumsi saat perut kosong. Jenis makanan tersebut dapat mengiritasi lambung dan memicu keluhan seperti nyeri ulu hati serta refluks asam lambung.

Selain mengatur jumlah makanan, menjaga asupan cairan juga penting selama bulan puasa. Kurangnya konsumsi cairan sejak berbuka hingga waktu sahur dapat meningkatkan risiko dehidrasi.

Para ahli menyarankan agar berbuka dilakukan secara bertahap, dimulai dengan makanan ringan yang mudah dicerna seperti buah atau makanan berkuah. Setelah itu, barulah dilanjutkan dengan makanan utama dalam porsi yang wajar.

Dengan pola makan yang lebih terkontrol, manfaat puasa bagi kesehatan dapat diperoleh tanpa harus menghadapi risiko gangguan kesehatan akibat makan berlebihan saat berbuka.

(nga/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial