Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan ancaman krisis energi terdahsyat dalam beberapa dekade terakhir akibat eskalasi perang di Timur Tengah.
Ia juga memberikan peringatan keras dengan menggambarkan situasi saat ini sebagai kondisi yang "sangat parah" buntut perang yang terjadi antara AS-Israel dan Iran hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pidatonya di National Press Club, seperti diberitakan AFP pada Senin (23/3), Birol membandingkan guncangan energi saat ini dengan krisis minyak bersejarah yang terjadi pada masa lalu.
Ia mencatat bahwa skala gangguan pasokan saat ini telah melampaui gabungan dua krisis besar pada era 1970-an.
"Banyak dari kita yang mengingat dua krisis minyak berturut-turut pada tahun 1970-an. Pada saat itu, di setiap krisis, dunia kehilangan sekitar lima juta barel per hari, jika keduanya digabungkan, menjadi 10 juta barel per hari," ujar Birol.
Data terbaru menunjukkan bahwa lubang pasokan minyak global saat ini jauh lebih dalam dibandingkan periode kelam tersebut. Birol menekankan dampak yang dirasakan sekarang jauh lebih masif bagi stabilitas ekonomi dunia.
"Hingga hari ini, kita telah kehilangan 11 juta barel per hari, jadi ini lebih besar daripada gabungan dua guncangan minyak utama sebelumnya," tegasnya.
Tak hanya itu, Kepala IEA itu juga menegaskan krisis ini merupakan isu global yang tidak mengenal batas wilayah. Ia memperingatkan "tidak ada negara yang akan kebal" terhadap dampak luas krisis energi global yang tengah berlangsung.
Presiden AS Donald Trump dan Iran sama-sama mengeluarkan ancaman balasan saat perang memasuki minggu keempatnya. Trump menuntut Republik Islam membuka kembali Selat Hormuz yang diblokir, yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia.
Kemacetan tersebut hampir menghentikan semua pengiriman minyak bumi melalui jalur air yang sempit itu, dan harga minyak telah melonjak.
Kondisi tersebut membuat harga minyak naik pada Senin (23/3) pagi setelah Trump memberi Iran ultimatum 48 jam untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi kehancuran infrastruktur energinya, dan Israel memperingatkan perang masih akan berlanjut selama beberapa pekan lagi.
Dilansir AFP, tak lama setelah pembukaan pukul 22.00 GMT, harga West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, untuk pengiriman Mei naik 1,8 persen menjadi sedikit di atas US$100 per barel, sebelum sedikit turun.
Harga minyak mentah Brent Laut Utara untuk pengiriman Mei naik dengan laju yang sama, menjadi US$113,44 per barel sebelum turun menjadi sekitar US$111 sekitar 45 menit setelah perdagangan dimulai.
Sebagai pembanding, pada 27 Februari, sehari sebelum serangan AS-Israel dimulai terhadap Iran, harga minyak mentah tersebut masing-masing berada di level US$67,02 dan US$72,48 per barel.
(chri/chri)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
3






























