Hacker Iran Serang Sistem Infrastruktur, Bikin Kacau Layanan di AS

3 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Para peretas atau hacker terafiliasi Iran dilaporkan mulai menyerang sistem infrastruktur penting milik Amerika Serikat (AS) seiring eskalasi antar dua negara dalam beberapa waktu terakhir.

Sejumlah lembaga utama AS, termasuk FBI, Badan Keamanan Nasional (NSA), Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA), Badan Perlindungan Lingkungan (EPA), Departemen Energi, serta Pasukan Misi Nasional Siber di bawah Komando Siber AS, mengeluarkan peringatan mengenai serangan tersebut. Mereka melaporkan peningkatan signifikan serangan siber yang diduga dilakukan oleh peretas Iran terhadap infrastruktur penting mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Aktor ancaman persisten tingkat lanjut (APT) yang berafiliasi dengan Iran sedang melakukan aktivitas eksploitasi yang menargetkan perangkat teknologi operasional (OT) yang terhubung ke internet, termasuk pengontrol logika yang dapat diprogram (PLC) yang diproduksi oleh Rockwell Automation/Allen-Bradley," dalam pernyataan bersama yang dirilis di laman CISA, Selasa (7/4).

"Aktivitas ini telah menyebabkan gangguan pada PLC di berbagai sektor infrastruktur kritis AS melalui interaksi berbahaya dengan berkas proyek serta manipulasi data pada antarmuka manusia-mesin (HMI) dan tampilan sistem pengendalian dan akuisisi data (SCADA), yang mengakibatkan gangguan operasional dan kerugian finansial," lanjut keterangan tersebut.

Menurut laporan Reuters pada Rabu (8/4), dalam peringatan resmi yang dirilis pada Selasa, para peretas dilaporkan menargetkan sistem industri seperti PLC dan Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) yang terhubung ke jaringan publik.

Dengan akses ke sistem ini, para peretas tidak hanya bisa melihat data, tapi juga dapat memanipulasi cara kerja mesin dan infrastruktur.

Perangkat-perangkat ini memiliki peran vital dalam mengoperasikan dan mengendalikan berbagai sistem di sektor infrastruktur kritis.

Para peretas berupaya menimbulkan "dampak yang mengganggu di Amerika Serikat". Bahkan disebutkan, "dalam beberapa kasus, aktivitas ini telah mengakibatkan gangguan operasional dan kerugian finansial."

Mereka juga mengakses berkas dalam sistem untuk memodifikasi data yang ditampilkan sekaligus mengekstrak informasi proyek perangkat. Target serangan mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari layanan dan fasilitas pemerintah, sistem air dan air limbah, hingga sektor energi.

Serangan ini menandai perubahan besar dalam strategi serangan siber. Jika sebelumnya serangan siber identik dengan pencurian informasi, kini peretas berupaya menciptakan dampak langsung seperti gangguan layanan hingga kerugian finansial.

Menurut laporan Tech Crunch, Kelompok Handala disebut-sebut sebagai salah satu aktor utama serangan tersebut. Kelompok ini dikaitkan dengan sejumlah serangan besar, termasuk peretasan sistem perusahaan teknologi medis Stryker.

Dalam aksi tersebut, mereka bahkan mampu menghapus ribuan perangkat karyawan dari jarak jauh menggunakan sistem keamanan internal perusahaan.

Kelompok ini juga disebut sebagai aktor utama di balik kebocoran email pribadi Direktur FBI Kash Patel. Akibat aksi tersebut, sejumlah foto Patel yang tengah menghisap cerutu, mengendarai mobil antik, dan mirror selfie sambil membawa sebotol minuman dipublikasikan.

Namun demikian, di dunia nyata perang Iran dan AS mulai mereda setelah kesepakatan gencatan senjata. Presiden Donald Trump sepakat menunda serangan terbaru AS ke Iran selama dua pekan dengan imbalan Teheran yang akan mulai membuka Selat Hormuz.

Iran akhirnya mau memulai perundingan dan membuka Selat Hormuz setelah Trump menyepakati 10 tuntutan Teheran sebagai syarat gencatan senjata.

Iran menganggap gencatan senjata ini "kemenangan" lantaran AS akhirnya menerima 10 tuntutannya. Sementara itu, Presiden Trump turut mengeklaim kemenangan atas Iran dengan dalih gencatan senjata tercapai karena perang sudah "melampaui tujuan militer AS."

(wpj/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial