Jakarta, CNN Indonesia --
Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, menegaskan urgensi untuk mempertahankan gencatan senjata dalam perang di Iran yang tengah berlangsung.
Ia juga memprediksi bahwa krisis Selat Hormuz akan menjadi agenda utama dalam pertemuan bilateral saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengunjungi China bulan ini.
Dalam keterangannya kepada wartawan di Markas Besar PBB pada Jumat (1/5), Fu menyatakan bahwa Selat Hormuz harus segera dibuka kembali untuk menjamin stabilitas ekonomi global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fu mengungkapkan kekhawatiran mendalam Beijing atas retorika yang menyebut bahwa gencatan senjata saat ini hanya bersifat sementara dan adanya niat untuk melancarkan gelombang serangan baru.
"Isu paling mendesak adalah menjaga gencatan senjata. Gencatan senjata ini harus bertahan lama, dan harus ada negosiasi dengan niat baik antara kedua belah pihak," ujar Fu, seperti dilansir Asia One.
"Saya pikir komunitas internasional harus dimobilisasi dan menyuarakan penolakan terhadap dimulainya kembali pertempuran," tambah dia.
Fu juga menekankan perlunya langkah timbal balik dari kedua belah pihak. Iran dituntut untuk segera mencabut pembatasan di Selat Hormuz, sedangkan AS dituntut menghentikan blokade laut yang saat ini dilakukan oleh militer AS.
Terkait rencana kunjungan Donald Trump ke China bulan Mei ini, Fu meyakini bahwa krisis jalur perdagangan energi akan menjadi topik panas jika blokade belum berakhir.
"Saya yakin jika (Selat) Hormuz masih ditutup pada saat Presiden Trump pergi ke China, masalah ini akan menjadi prioritas tinggi dalam agenda pembicaraan bilateral," jelasnya.
Selain itu, Fu secara tegas membantah tuduhan dari sejumlah pejabat AS mengenai adanya kerja sama militer antara China dan Iran, dengan menyebut tudingan tersebut sebagai informasi "palsu".
(wiw)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
5
























