Algoritma Ketupat dan Tangan Tak Kasat Mata Pengatur Cara Lebaran Kita

1 hour ago 2

Roni Satria

Roni Satria, penyuka traveling, saat ini aktif sebagai koresponden CNN Indonesia dan dosen Prodi Penyiaran Multimedia Universitas Indonesia. Ia baru menyelesaikan pelatihan AI Journalism Lab: Adoption di New York.

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi

CNNIndonesia.com

Jakarta, CNN Indonesia --

Ketupat tidak pernah lahir dari tergesa-gesa. Dimulai dari janur yang dipilih dengan cermat, lipatan yang harus tepat, hingga simpul yang tak boleh salah. Tangan bergerak menyilang, menyelip, mengencangkan, dan terus mengulang.

Satu keliru, bentuk berubah. Satu longgar, isi tumpah. Prosesnya mungkin sederhana untuk dilihat, namun tidak mudah bagi yang baru pertama mencoba.

Itu sebabnya ketupat sesungguhnya bukan cuma simbol lebaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketupat menjadi simbol tentang bagaimana manusia membangun keteraturan. Anyaman ketupat lahir langkah-langkah yang tidak boleh dibolak-balik sesuka hati. Dari pola yang harus diulang dengan benar. 

Namun justru dari hal yang sederhana dan sangat akrab itulah, kita bisa mulai memahami sesuatu yang hari ini terdengar sangat modern yang dinamai algoritma.

Kita hidup di zaman yang aneh. Kita fasih menyebut machine learning, large language model, dan generative AI. Tapi sebagian besar dari kita tidak benar-benar paham cara kerjanya.

Algoritma terasa jauh bahkan abstrak, terlalu teknis seolah hanya milik para insinyur Silicon Valley. Padahal kita sudah mengenalnya jauh sebelum kata itu ada. Kita mengenalnya lewat ketupat.

Tidak ada ruang untuk improvisasi lipatan janur di tengah jalan. Sebab menganyam ketupat bukan sekadar kerajinan tangan, melainkan tata urut prosedur: input, proses, dan output. Inilah definisi paling simpel dari algoritma.

The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mendefinisikan AI sebagai sistem yang menginferensi dari input untuk menghasilkan prediksi, rekomendasi, atau keputusan. Kedengarannya futuristik. Tetapi logika dasarnya identik dengan yang sudah dikuasai orang tua terdahulu kita tanpa perlu kuliah informatika. Mulai dari masukkan bahan yang tepat, ikuti urutan yang benar, hasilkan sesuatu yang bisa diandalkan.

Bedanya, algoritma ketupat bisa kita lihat. Bisa kita pelajari langsung dari tangan seseorang. Bahkan, bisa kita koreksi di tempat. Sebaliknya, algoritma yang menghampiri momen lebaran hari ini bekerja dengan cara yang jauh lebih halus, lebih cepat, dan sering kali tidak terlihat.

Sebelum 'ketupat' matang, sebagian besar dari kita sudah lebih dulu diproses oleh mesin rekomendasi. Mulai dari promo mudik yang muncul tepat ketika kita mulai memikirkan tiket, konten dakwah yang meluncur algoritmik di malam-malam Ramadan, sampai iklan hamper yang entah bagaimana selalu tahu kapan kita mulai berpikir soal mengirimkan parsel.

Kita mungkin mengira kita yang memilih. Padahal ada sistem yang melakukan pilihan itu lebih dulu. Sistem itu pula yang mengoptimalkan bukan atas dasar makna, melainkan keterlibatan atau engagement.

Skala pengaruhnya sudah tidak bisa diabaikan. Jaringan firma jasa profesional global di London, PricewaterhouseCoopers (PwC), mencatat 69 persen pekerja Indonesia menggunakan AI dalam pekerjaan mereka dalam 12 bulan terakhir. Stanford HAI melaporkan 78 persen organisasi global kini menggunakan AI, naik dari 55 persen setahun sebelumnya. Penggunaan generative AI dalam bisnis melonjak dari 33 persen menjadi 71 persen hanya dalam satu tahun.

Ini jadi bukti algoritma bukan lagi eksperimen laboratorium. Kini sudah menjadi infrastruktur yang mengatur apa yang kita baca, apa yang kita percaya, dan apa yang kita anggap penting.

Di sinilah ketupat menjadi lebih dari sekadar metafora yang manis.

Ketupat menjadi pengingat bahwa pola tidak harus tersembunyi. Algoritma anyaman janur itu diwariskan lewat duduk bersama, lewat tangan yang menuntun tangan, lewat kesalahan yang langsung terlihat dan langsung diperbaiki.

Journal of Ethnic Foods menempatkan ketupat sebagai simbol kuliner sentral Idul Fitri, di mana proses membuatnya menjadi praktik sosial yang memuat memori, kebersamaan, dan makna yang mengakar.

Algoritma platform tidak punya semua itu. Algoritma tidak mewariskan apa-apa kecuali kebiasaan mengklik. Tidak ada yang dipertemukan kecuali dalam ilusi komunitas yang dikurasi untuk mengunci perhatian.

Algoritma tidak mewariskan keterampilan komunal seperti anyaman ketupat. Sebaliknya, justru mewariskan kebiasaan baru dalam mengonsumsi informasi, berbelanja, dan memberi perhatian.

Meski algoritma dapat mempertemukan orang, namun dapat pula "mengurung" orang dalam arus rekomendasi yang dirancang. Karena itu, persoalannya tak semata apakah algoritma itu canggih, melainkan nilai apa yang ditanamkan di dalamnya dan kepentingan siapa yang sedang dilayani.

Lantas, algoritma siapa yang sedang membentuk lebaran kita?

Apakah dirancang oleh platform untuk memaksimalkan engagement atau yang diwariskan oleh tradisi untuk mempererat manusia? Yang bekerja diam-diam di server tanpa wajah atau yang terlihat nyata di tangan seseorang yang mengajari kita cara melipat janur?

Kita punya hak untuk memilih. Tetapi pilihan itu hanya mungkin jika kita sadar bahwa pilihan itu ada. Dan kesadaran itu, ironis memang, harus dimulai dari hal yang paling analog yang masih kita miliki yakni duduk bersama, menganyam pelan-pelan, dan ingat bahwa tidak semua pola yang mengatur hidup kita datang dari mesin.

Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya kecanggihan teknologi, tetapi kendali manusia atas nilai yang ditanamkan di dalamnya.

(sur)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial