Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China memperingatkan Amerika Serikat dan sekutu di Pasifik untuk tidak macam-macam sehingga membuka konflik baru.
Juru bicara Kemlu China Guo Jiakun mengatakan dalam konferensi pers pada Senin (20/4) bahwa latihan militer gabungan antara AS, Filipina, dan Jepang sebaiknya tidak memprovokasi negara-negara kawasan, terutama China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menekankan kerja sama militer antar negara tidak boleh merusak rasa saling pengertian dan kepercayaan di antara negara sekitar.
"Yang paling dibutuhkan kawasan Asia-Pasifik adalah perdamaian dan ketenangan, dan yang paling tidak dibutuhkan adalah masuknya kekuatan eksternal untuk menciptakan perpecahan dan konfrontasi," kata Guo, seperti dikutip Reuters.
"Kami ingin mengingatkan negara-negara terkait bahwa mengikat diri secara membabi buta atas nama keamanan sama dengan bermain api, yang pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri," lanjutnya, saat merespons pertanyaan tentang latihan militer tersebut.
AS dan Filipina menggelar latihan militer gabungan besar-besaran di Pasifik mulai 20 April hingga 8 Mei mendatang. Latihan ini digelar di dekat Laut China Selatan dan Taiwan, yang notabene titik panas sengketa oleh China.
Jepang ikut dalam latihan ini dengan mengirim sekitar 1.400 personel, beberapa kapal perang dan pesawat, serta sistem rudal anti-kapal Tipe 88.
Menurut para analis, partisipasi perdana dan skala besar Jepang di latihan Balikatan ini menandakan prioritas Tokyo dalam menekan ancaman China terhadap Taiwan.
China telah mengkritik Jepang karena mengirimkan kapal perang melalui Selat Taiwan. Kemlu China menyebut masuknya kapal Pasukan Bela Diri Jepang ke selat tersebut adalah "provokasi yang disengaja."
Hubungan China dan Jepang panas setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membuat pernyataan terkait Taiwan pada November lalu. Takaichi saat itu berujar militer Jepang dapat mengintervensi jika terjadi konflik di Taiwan, dikutip dari South China Morning Post.
China selama ini menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Sementara Taipei ingin merdeka dan sudah memiliki pemerintahan sendiri. China berulang kali mengancam akan mengambil kembali Taiwan secara militer jika memang diperlukan.
Hubungan China dan Jepang pun terus tegang sejak Takaichi membuat pernyataan demikian. Sejak saat itu, China membatasi ekspor barang dwifungsi, memperketat aturan ekspor logam tanah jarang, serta mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga China.
Hubungan China dan Filipina juga tak baik, lantaran Beijing berselisih mengenai sebagian kawasan Laut China Selatan yang tumpang tindih dengan wilayah Filipina di sekitar Kepulauan Spratly. China mengeklaim nyaris seluruh Laut China Selatan sebagai miliknya.
(blq/bac)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2





















