Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menetapkan status darurat energi nasional imbas pasokan bahan bakar minyak dan gas yang terganggu gegara perang Iran vs Amerika Serikat-Israel di Timur Tengah.
Marcos bahkan memperingatkan "ancaman yang segera terjadi" terhadap "ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara" imbas perang yang berlangsung hampir sebulan lamanya ini.
Marcos Jr menetapkan status darurat energi nasional ini berlaku selama satu tahun dan mengatakan langkah ini diambil sebagai respons terhadap perang di Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penutupan Selat Hormuz telah mengganggu pasar energi, rantai pasok, dan mendorong lonjakan harga minyak, sehingga "menimbulkan ancaman terhadap ketahanan energi negara".
Dikutip CNN, Marcos mengatakan sebuah komite telah dibentuk untuk memastikan ketersediaan dan distribusi bahan bakar, pangan, obat-obatan, produk pertanian, serta barang kebutuhan pokok lainnya.
Langkah-langkah yang diambil selama darurat energi nasional ini mencakup penerapan penghematan energi, pemberian subsidi bahan bakar, serta berbagai inisiatif lain untuk menekan biaya transportasi.
Pemerintah Filipina juga akan mengambil tindakan terhadap penimbunan, praktik ambil untung berlebihan, dan manipulasi pasokan produk minyak bumi.
Selain itu, Marcos menyatakan pemerintah akan menyalurkan bantuan sebesar 5.000 peso (sekitar 83 dolar AS) kepada pengemudi ojek dan pekerja transportasi untuk membantu mengatasi kenaikan harga bahan bakar. Program kesejahteraan juga telah diumumkan bagi petani, nelayan, dan kelompok pekerja lainnya.
(rds/rds)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
1






























