Nasabah PNM Ubah Sampah Jadi Bernilai, Gerakkan Ekonomi dan Lingkungan

3 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Sampah tak lagi menjadi persoalan bagi Amaliyah Sholihah, ibu rumah tangga asal Kampung Masigit, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten.

Di tangannya, limbah justru berubah menjadi sumber penghasilan sekaligus menggerakkan kesadaran lingkungan di tingkat masyarakat.

Amaliyah merupakan nasabah Permodalan Nasional Madani (PNM) yang memulai usaha rumahan membuat kue basah sejak 2019.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usaha kecil yang berawal dari dapur dengan penghasilan harian Rp10 ribu hingga Rp100 ribu itu perlahan berkembang setelah mendapatkan akses pembiayaan dan pendampingan dari PNM Cabang Serang.

Namun, peningkatan produksi justru memunculkan persoalan baru berupa penumpukan sampah. Kondisi tersebut mendorong Amaliyah mencari solusi dengan memanfaatkan limbah rumah tangga agar memiliki nilai guna.

"Ini bukan cuma perjuangan kami untuk menciptakan lingkungan yang asri, tapi juga bentuk cinta kami, aksi nyata kami dalam melindungi bumi agar tetap asri," kata Amaliyah.

Bersama suaminya, ia mulai memilah sampah seperti plastik kemasan, botol, dan kardus. Limbah non-organik tersebut kemudian diolah menjadi ecobrick, yakni botol plastik yang diisi padat sampah, lalu dirakit menjadi produk bernilai jual, salah satunya sofa.

Proses pembuatan ecobrick dilakukan secara bertahap dan membutuhkan ketelitian. Sampah plastik dipotong kecil, dimasukkan ke dalam botol bersih dan kering, kemudian dipadatkan hingga mencapai bobot tertentu agar kokoh. Untuk botol berukuran 600 mililiter, bobotnya harus mencapai 200-250 gram, sedangkan botol 1,5 liter sekitar 500 gram.

Setelah terkumpul, botol-botol tersebut disusun dan direkatkan, lalu dilapisi kardus dan triplek, ditambahkan busa, hingga akhirnya dibungkus menyerupai sofa pada umumnya. Satu sofa kecil membutuhkan sekitar 4,7 kilogram sampah plastik, sementara ukuran besar hampir mencapai 10 kilogram.

"Jadi bayangkan, satu sofa kecil saja bisa menampung sekitar 4,7 kilogram sampah plastik, kalau yang besar hampir 10 kilogram," ujarnya.

Dalam waktu kurang dari satu tahun, Amaliyah telah memproduksi lebih dari 80 sofa ecobrick yang dipasarkan melalui berbagai pameran.

Tak berhenti pada produksi, Amaliyah juga menginisiasi gerakan kolektif dengan mendirikan Bank Sampah Mata. Melalui program ini, warga diajak memilah sampah dari rumah untuk kemudian disetorkan dan diolah kembali.

Saat ini, sebanyak 86 keluarga telah bergabung. Selain membantu mengurangi volume sampah, program ini juga memberikan tambahan penghasilan bagi warga.

"Dulu sampah dibuang saja ke kali, sekarang dikumpulkan, ditimbang, jadi uang. Sekali bawa bisa 5 sampai 10 kilogram, uangnya ditabung," ujar Sifa, salah satu warga.

Dalam mekanisme yang diterapkan, sampah yang telah diolah menjadi ecobrick dihargai Rp5.000 per kilogram. Amaliyah juga mengembangkan produk lain, seperti lilin aromaterapi berbahan minyak jelantah.

Dampak dari gerakan ini mulai terlihat. Ketua RT setempat, Ely, menyebut volume sampah di wilayahnya menurun signifikan.

"Sebelum ada bank sampah sekitar 800 sampai 900 kilogram per bulan. Sekarang bisa berkurang jadi sekitar 400 kilogram," katanya.

Upaya tersebut juga mendapat apresiasi dari pemerintah daerah melalui sejumlah penghargaan. Amaliyah menegaskan, keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk dukungan pemerintah dan pendampingan dari PNM.

Selain berdampak pada ekonomi dan lingkungan, kegiatan ini juga memiliki nilai sosial. Sebagian keuntungan dari penjualan produk disisihkan untuk membantu anak yatim dan perempuan kurang mampu.

Pada 2025, Amaliyah bersama kelompoknya menyalurkan santunan kepada tujuh anak yatim dan 34 janda dhuafa.

"Ini mungkin tidak seberapa, tapi melihat mereka tersenyum menjadi kebanggaan bagi kami," ujarnya.

Di tengah persoalan sampah yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah, langkah yang dilakukan Amaliyah menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari tingkat rumah tangga.

Di Kabupaten Serang, produksi sampah disebut hampir mencapai 1.200 ton per hari dengan tingkat penanganan yang masih terbatas. Namun, melalui gerakan berbasis masyarakat yang dilakukan nasabah PNM, upaya pengelolaan sampah mulai menunjukkan hasil.

(rea/rir)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial