Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump terang-terangan punya rencana mengambil alih kendali minyak Iran.
Dia mengatakan langkah itu adalah "sebuah pilihan."
Dilansir AFP, Jumat (27/3), Trump menyampaikan pilihan tersebut seraya membandingkannya dengan kesepakatan yang dibuat Washington dengan Venezuela setelah menggulingkan rezim Nicolas Maduro.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu adalah sebuah pilihan," kata Trump kepada wartawan dalam rapat kabinet ketika ditanya apakah ia ingin mengambil alih kendali minyak Iran di tengah perang yang terus berkecamuk.
Rebutan negara-negara Barat
Keinginan Trump yang ingin mengambil minyak Iran, bukan hasrat pertama negara Barat.
Sejarah mencatat, penemuan minyak di Iran Persia pada tahun 1908 menandai titik balik penting dalam lanskap ekonomi dan politik kawasan tersebut. Dengan penemuan ini, Iran tercatat jadi negara pertama di Timur Tengah yang digali untuk menghasilkan minyak.
Proses ini dimulai ketika Moẓaffar od-Dīn Shāh, penguasa Dinasti Qājār, menjual hak eksplorasi kepada William Knox D'Arcy, seorang warga Inggris yang kaya.
Usaha D'Arcy membuahkan hasil ketika minyak ditemukan di Masjed Soleymān, yang mengarah pada pendirian Anglo-Persian Oil Company pada tahun 1909.
Sejak itu, lebih dari 120 penemuan ladang minyak dan gas telah dilakukan di wilayah daratan Iran dan perairan teritorialnya di Teluk Persia.
Dampaknya, bukan hanya Inggris yang mau menikmati, Rusia pun tergiur. Rusia maupun Inggris berupaya melindungi kepentingan mereka di Persia selama Perang Dunia I.
Perkembangan selanjutnya termasuk upaya para pemimpin lokal, seperti Reza Khan, untuk menegosiasikan persyaratan yang lebih baik untuk keuntungan minyak, yang mencerminkan sentimen nasionalistik yang berkembang.
Momen bersejarah ini meletakkan dasar bagi hubungan kompleks Iran dengan kekuatan asing, khususnya mengenai kendali minyak, yang terus berkembang sepanjang abad ke-20, berpuncak pada pergolakan politik yang signifikan, termasuk revolusi 1979.
Kudeta demi minyak
Minyak Iran makin menggiurkan hingga The Anglo Persian Company didirikan dan tahun 1951 berubah menjadi British Petroleum dengan 51% saham dimiliki pemerintah Inggris.
Namun, saat Mohammad Mossadegh terpilih menjadi perdana menteri Iran secara demokratis pada 1951, semua perusahaan asing dinasionalisasi. Tak senang dengan cara ini, Inggris bekerjasama dengan Amerika Serikat berkomplot menjatuhkan Mosadegh.
Laman Association for Diplomatic Studies & Training (ADST) menuliskan, AS dan Inggris bekerjasama menggulingkan kekuasaan PM Mossadegh yang dikenal sebagai "Operasi Ajax".
Dibawah kendali Kepala CIA Kermit Roosevelt, demo dan kerusuhan pun dirancang. Menurut Stephen Kinzer, penulis buku "All the Shah's Men", Kermit dengan cepat menguasai pers Iran dengan menyuap mereka dan menyebarkan propaganda anti-Mossadegh.
Ia merekrut sekutu di antara ulama Islam, dan membuat berita palsu bahwa Mossadegh adalah ancaman. Langkah selanjutnya melibatkan upaya dramatis untuk menangkap Mossadegh di rumahnya di tengah malam.
Tetapi kudeta itu gagal. Mossadegh mengetahuinya dan melawan balik. Keesokan paginya, ia mengumumkan kemenangan melalui radio.
Dengan demikian, penemuan minyak tidak hanya mengubah ekonomi Iran tetapi juga dinamika politik dan hubungan internasionalnya.
Keterlibatan Amerika dalam penggulingan Mossadegh pun dipublikasikan oleh dokumen CIA yang terbit pada 19 Agustus 2013. CIA secara terbuka mengakui untuk pertama kalinya keterlibatannya dalam kudeta tahun 1953 terhadap Perdana Menteri Iran terpilih Mohammad Mossadegh.
Dokumen-dokumen tersebut memberikan rincian rencana CIA pada saat itu, bahkan Kermit Roosevelt mengatur bukan hanya satu, tetapi dua upaya untuk menggoyahkan pemerintahan Iran, yang selamanya mengubah hubungan antara negara tersebut dan AS.
(imf/bac)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
3























