Tiara Sutari | CNN Indonesia
Jumat, 13 Feb 2026 15:45 WIB
Mencicip seporsi angsa yang dapet lavel Michelin Guide 2025 di Song Wat Road. (CNN Indonesia/ Tiara Sutari)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kata orang, kalau ada warung yang benar-benar enak, polisi pasti datang untuk makan siang atau makan malam.
Entah mitos atau bukan, pemandangan itu yang langsung menyambut CNNIndonesia.com saat melangkah masuk ke Urai Han Palo Braised Goose. Satu meja panjang dipenuhi polisi Thailand yang sedang makan siang. Serius, tenang, dan terlihat sangat menikmati sepiring daging angsa di hadapan mereka.
Warung tua ini berdiri di 935 Song Wat Road, kawasan lama Bangkok yang kini kembali naik daun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari luar, tampilannya sederhana, bahkan cenderung biasa saja. Tidak ada dekorasi mencolok, hanya meja-meja kayu, kipas angin yang berputar tanpa henti, dan antrean yang sabar menunggu giliran.
Namun, satu detail kecil cukup mencuri perhatian, logo Michelin Guide kategori Bib Gourmand yang kini terpajang di sana. Jangan salah, logo itu masih baru, keluar tahun 2025.
Urai Han Palo Braised Goose. Salah satu restoran michelin star 2025 di Bangkok. Menyajikan menu Angsa dengan citarasa old school racikan keluarga. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Angsa Teochew yang direbus pelan sejak pagi
Urai Han Palo dikenal karena satu hal, angsa braised gaya Teochew yang dimasak dengan cara lama. Teknik ini diwariskan turun-temurun oleh keluarga keturunan Teochew yang telah lama menetap di Thailand.
Setiap pagi, angsa utuh direbus perlahan dalam kuah kecap asin, campuran Chinese five-spice, dan rempah-rempah. Prosesnya tidak bisa dipercepat. Api kecil, waktu panjang, dan kesabaran menjadi kunci agar daging empuk sekaligus menyerap rasa.
Proses makan di sini sederhana tapi butuh waktu. Datang, ambil nomor antrean, duduk, lalu memesan. Setelah pesanan dicatat, teh hangat datang lebih dulu. Daging angsa menyusul, kemudian nasi dan pelengkap.
Jeda antar sajian kadang cukup panjang. Kadang-kadang sepiring daging datang lebih dulu, tetapi masih harus menunggu cukup lama untuk nasi. Di sini, ritme dapur adalah hukum utama.
Perlu dicatat juga, para pelayannya yang konon masih satu keluarga benar-benar tidak bisa berbahasa Inggris. Bahasa tubuh dan kesabaran adalah kunci utama untuk mencicip angsa legendaris ini.
Daging angsa di Urai Han Palo Braise Goose. (CNN Indonesia/ Tiara Sutari)
Perlu dicatat, mereka juga tidak buka sepanjang hari. Jam operasionalnya terbagi dua sesi, yakni pukul 10.00-13.00 dan 16.00-19.00, setiap hari Senin hingga Minggu.
Di luar jam itu, pintu tertutup. Datang terlalu siang atau menjelang tutup, risiko kehabisan sangat besar.
Harga yang masih masuk akal
Soal harga, Urai Han Palo tergolong masih ramah untuk tempat yang sudah masuk radar Michelin. Porsi kecil (small) yang cukup untuk 1-2 orang dibanderol THB 250 atau sekitar Rp112.500 dengan kurs perkiraan Rp450 per baht.
Untuk 2-3 orang, porsi medium seharga THB 420 atau sekitar Rp189 ribu terasa lebih pas. Sementara porsi besar untuk 4-5 orang dipatok THB 840 atau kurang lebih Rp378 ribu.
Jika ingin mencoba bagian tertentu, tersedia pilihan ala carte seperti kepala dan sayap angsa seharga THB 80 atau sekitar Rp36 ribu, kaki dan ampela di kisaran THB 70 sekitar Rp31.500, hingga semangkuk sup bening dengan harga serupa.
Nasi putihnya bahkan hanya THB 10 atau sekitar Rp4.500 per porsi. Dengan teknik memasak yang memakan waktu serta kualitas rasa yang konsisten, harga tersebut terasa cukup sepadan.
Jadi, bagaimana rasanya?
Sepiring angsa datang dengan potongan rapi. Kulitnya tampak lembut dan tipis, tanpa kilap lemak berlebihan. Dagingnya terlihat padat namun empuk.
Gigitan pertama menjawab rasa penasaran panjang dari antrean yang bisa memakan waktu 1-1,5 jam itu. Dagingnya lunak, relatif juicy, dan mudah terlepas.
Rasa gurih dari kuah braise menyatu dengan aroma rempah yang hangat dan sedikit herbal. Tidak ada aroma amis yang mengganggu.
Jujur saja, ini sepiring angsa yang sangat enak, bersih, seimbang, dan matang sempurna. Kekuatan angsa ini betul-betik enak yang ringan, tidak berlebihan, tidak terlalu berat, dan tetap membuat ingin suapan berikutnya.
Urain Han Palo Braise Goose. (CNN Indonesia/ Tiara Sutari)
Angsa disajikan bersama semangkuk kecil kaldu bening, nasi putih, dan saus cocolan yang justru menjadi bintang tersembunyi.
Sausnya tajam dan segar, dengan sentuhan citrus dan cuka yang langsung menyentil lidah, ditambah pukulan bawang putih yang kuat. Kombinasi ini memotong rasa kaya daging angsa dan membuat keseluruhan hidangan terasa lebih ringan.
Pelayanan di sini lugas dan efisien. Datang, makan, selesai.
Tidak ada obrolan panjang, tidak ada dekorasi dramatis. Kipas angin bekerja keras melawan panas Bangkok, tetapi sering kali cuaca tetap lebih unggul.
Tapi, mungkin justru di situlah daya tariknya. Di tengah kawasan Song Wat yang kini semakin hip dan dipenuhi kafe modern, warung keluarga ini tetap setia pada resep dan dekorasi lama.
Dan saat kembali melirik meja para polisi yang masih asyik menikmati makan siang mereka, mungkin memang ada benarnya, kalau polisi setempat saja rela antre dan makan dengan lahap, berarti sepiring angsa ini memang pantas dicari.
(tis)

3 hours ago
1






























