Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah gejolak ekonomi global, investasi valuta asing (valas) atau mata uang asing kembali dilirik oleh sebagian investor domestik sebagai safe haven.
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar mata asing semakin fluktuatif, termasuk tekanan terhadap rupiah. Kondisi gonjang-ganjing ini menimbulkan dilema bagi investor antara potensi keuntungan dan risiko yang dihadapi.
Memangnya, berinvestasi mata uang uang masih relevan dan bisa mendulang cuan di tengah gonjang-ganjing ekonomi dunia saat ini?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simak petuah para perencana keuangan terkait investasi valas berikut:
1. Valas lebih cocok untuk proteksi nilai dibandingkan cari untuk dengan cepat
Perencana Keuangan Zielts Consulting Ahmad Gozali menyampaikan bagi investor yang ingin trading secara aktif menggunakan forward contract, tidak perlu melihat pelemahan mata uang rupiah.
"Trading bisa dilakukan karena ada kenaikan dan penurunan, karena bisa ambil untung dari sisi jual maupun beli," ujar Ahmad kepada CNNIndonesia.com, Jumat (17/4).
Meski begitu, Ahmad menyarankan investasi secara aktif untuk investor yang mempunyai waktu, kompetensi, dan dana yang besar. Sementara bagi investor yang melakukan investasi secara pasif, dapat membeli valas secara fisik atau rekening valas melalui pasar spot.
"Yang seperti ini saya sarankan terutama untuk yang punya kebutuhan masa depan dalam bentuk valas. seperti umroh, haji, traveling atau pendidikan anak," terangnya.
2. Lihat prospek ekonomi negaranya
Ahmad mengatakan pilihan mata uang valas disesuaikan dengan kebutuhan. Secara umum, investor biasanya memilih dolar AS untuk dikoleksi. Namun saat ini terdapat alternatif yang lebih luas, seperti dolar Singapura (SGD) bahkan yuan China.
"Umumnya sih USD (dolar AS) ya, tapi sekarang mungkin pilihan bisa lebih luas seperti SGD (dolar Singapura), bahkan Yuan," kata Ahmad.
Ia menjelaskan China merupakan negara adidaya berikutnya secara ekonomi. Dengan demikian, Ahmad memproyeksi mata uang Yuan cenderung stabil dan terus menguat ke depannya.
"Negara adidaya berikutnya secara ekonomi adalah China, mungkin bisa jadi mata uang yang stabil dan terus menguat," imbuhnya.
Selain itu, Ahmad juga menjelaskan pergerakan dolar Singapura (SGD) saat ini sudah sangat kuat. Meski begitu, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi tidak dapat terhindarkan imbas konflik geopolitik.
"Tapi SGD masih bisa di-hold untuk yang memang kebutuhannya dalam SGD, seperti traveling atau sekolah," ungkap Ahmad.
3. Perhatikan momentum mulai berinvestasi
Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Assad menjelaskan untuk memperhatikan momentum ketika berinvestasi. Hal ini karena setiap investasi mempunyai kelebihan dan kekurangan, terlebih kondisi tertentu yang berpengaruh kepada produk investasi tersebut.
"Saat ini memang USD mengalami peningkatan cukup tinggi dibandingkan sebelumnya, tapi kalau kita masuk saat ini, bisa dibilang nilainya sudah tinggi. Artinya kalau kita masuk saat ini, maka harganya sudah tinggi. Sehingga sangat disarankan untuk berhati hati," kata Tejasari.
Selain itu, Tejasari juga mengingatkan bagi investor untuk mempertimbangkan beberapa faktor. Pertama, saat ini kurs semakin meningkat imbas dari banyak investor masuk ke USD (dolar AS) karena suku bunga global cukup tinggi.
Kedua, banyak investor yang lebih memilih mata uang yang lebih kuat, tetapi ketika kondisi berubah justru ada kemungkinan mereka akan beralih pada pilihan produk investasi dari negara lain. Oleh karena itu, kondisi ini menyebabkan USD (dolar AS) mengalami penurunan.
4. Diversifikasi jenis valas
Tejasari mengungkapkan untuk meminimalkan risiko kerugian, maka investor sebaiknya melakukan diversifikasi dan tidak bergantung hanya pada satu jenis valas saja.
"Tentu saja ada beberapa mata uang lainnya yang bisa jadi pilihan, seperti Euro, Yen, SGD (dolar Singapura), CNY (Yuan), AUD (dolar Australia), CAD (dolar Kanada)," terang Tejasari.
Ia menjelaskan investor bisa melakukan berbagai diversifikasi pada mata uang lainnya selain USD (dolar AS). Meski begitu, tetap harus memperhatikan kelebihan dan kekurangan dari masing masing mata uang tersebut. Hal ini bertujuan agar bisa menutupi kelemahan dari mata uang lainnya, seperti perekonomian di negara tersebut, dan potensi pergerakannya di masa krisis.
(pta)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
3






















