Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut berniat mengincar Kuba setelah operasi militer AS dan Israel di Iran tuntas.
Empat orang yang mengetahui persoalan ini mengatakan kepada The New York Times bahwa pemerintahan Trump telah menyampaikan kepada Kuba bahwa Presiden Miguel Diaz-Canel mesti mundur jika ingin negosiasi berhasil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AS dan Kuba sedang dalam negosiasi terkait krisis energi dan ekonomi di Havana. Kuba dilanda krisis parah setelah AS cawe-cawe ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Venezuela adalah penyumbang dana asing terpenting Kuba. Negara Amerika Latin itu saat ini gelap gulita usai Trump melarang impor minyak Venezuela ke Kuba.
Dalam pernyataan kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin (16/3), Trump terang-terangan mengatakan bahwa merupakan sebuah "kehormatan untuk menaklukan Kuba".
"Saya yakin saya akan mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba. Apakah saya akan membebaskannya atau mengambilnya, saya kira saya bisa melakukan apa saja yang saya mau. Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini," ucap Trump, seperti dikutip The Guardian.
Setelah menangkap Maduro, Trump telah memberi sinyal ingin mencopot pula Diaz-Canel, Presiden Kuba yang dianggap AS politikus garis keras. Di bawah pemerintahannya, Kuba enggan memprivatisasi sektor minyak seperti yang disarankan AS.
Menurut salah seorang sumber, hal itu dilakukan karena Kuba ogah memberi AS kekuasaan signifikan atas urusan internal Kuba.
Oleh sebab itu, bagi Washington, pencopotan Diaz-Canel memungkinkan Kuba mengalami perubahan ekonomi struktural.
Sejumlah pihak telah meyakini bahwa Kuba memang bakal menjadi target Trump setelah Iran.
AS saat ini sedang berperang dengan Iran. Serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, meski belum berhasil menggulingkan pemerintahan teokratis negara itu.
(blq/bac)
Add
as a preferred source on Google

5 hours ago
4



















