Iran Pertimbangkan Bareng Oman Kelola Selat Hormuz, Sudah Susun Draf

1 hour ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Iran mempertimbangkan kemungkinan untuk menjalin kesepakatan dengan Oman terkait pengendalian Selat Hormuz.

Bahkan, mengutip dari CNBC--yang melansir IRNA-- draf protokol Iran dan Oman untuk memonitor kapal yang melewati selat yang memiliki lebar sekitar 21 mil laut di antara dua negara tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wamenlu Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan lalu lintas kapal tanker melalui jalur pengiriman minyak utama dunia itu "harus diawasi dan dikoordinasikan" oleh kedua negara. 

"Tentu saja, persyaratan ini tidak berarti pembatasan, tetapi lebih untuk memfasilitasi dan memastikan jalur yang aman serta memberikan layanan yang lebih baik kepada kapal-kapal yang melewati jalur ini," kata Gharibabadi.

Proposal draf di parlemen Iran

Mengutip dari Anadolu, Ketua Komisi Keamanan Nasional di Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengatakan proposal strategis terkait Selat Hormuz dapat memungkinkan pemerintah Negera Para Mullah untuk bekerja sama dengan Oman dan memperluas kendali di sana.

Pada Jumat (10/4), mengutip dari Anadolu--yang melansir dari lembaga penyiaran Iran, IRIB--Azizi  mengatakan bahwa proposal tersebut saat ini sedang ditinjau komisi parlemen sebelum diajukan ke rapat paripurna.

Ia mengatakan bahwa kerangka kerja tersebut baru akan mengikat setelah mendapat persetujuan parlemen Iran.

Namun, Azizi mengatakan dalam proposal itu-- jika disetujui-- Selat Hormuz akan berada di bawah 'kendali komprehensif dan penuh' dari angkatan bersenjata dan lembaga keamanan Iran.

Azizi menambahkan bahwa situasi di selat tersebut "tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang". Hal itu, sambungnya, menandakan perubahan permanen dalam pengelolaan jalur air tersebut.

Kapal Israel dilarang

Azizi mengatakan proposal tersebut mencakup ketentuan untuk melarang pelayaran kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap bermusuhan dengan Iran, terutama Israel.

Azizi juga mengatakan kapal yang terkait dengan Israel, baik militer maupun sipil, serta kapal yang berlayar ke atau dari Israel, akan dilarang melintasi Teluk Persia dan Selat Hormuz jika proposal tersebut disetujui.

Ia mengatakan ini akan berlaku untuk kapal yang kepemilikan, bendera, atau muatannya terkait dengan negara-negara tersebut, serta kapal militer atau kapal yang terlibat dalam kegiatan intelijen yang dianggap membahayakan keamanan nasional Iran.

Ia menambahkan bahwa penentuan ancaman tersebut akan dilakukan angkatan bersenjata Iran.

Selain itu, Azizi mengatakan proposal itu juga mengatur pembayaran perlintasan di Selat Hormuz itu akan menggunakan mata uang nasional Iran, Rial.

Konflik Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel berkolaborasi menyerang Iran pada 28 Februari lalu. Setidaknya lebih dari 3 ribu orang tewas, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Atas serangan ke pusat pemerintahan Iran itu, Teheran pun membalas serangan ke wilayah Israel dan lokasi fasilitas militer AS di negara-negara teluk. I ran juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.

AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu pada Selasa (7/4) lalu dan akan dimediasi Pakistan akhir pekan ini.

Dalam proposal perdamaian untuk dinegosiasikan di Islamabad, Iran mengajukan syarat pengendalian Selat Hormuz kemungkinan tarif hingga US$2 juta (sekitar Rp34,19 miliar), dan sejauh ini menggunakan mata uang China, Yuan. Namun, hal tersebut belum diakui AS.

(kid)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial