Hanami Jepang Kian Mahal, Piknik Sakura Ikut Terdampak Inflasi

2 hours ago 1

CNN Indonesia

Selasa, 24 Mar 2026 17:37 WIB

Biaya piknik hanami di Jepang naik 25 persen sejak 2020. Inflasi global dan yen lemah bikin tradisi sakura makin mahal. Ilustrasi. Gara-gara inflasi, piknik bunga Sakura di Jepang kian mahal. (REUTERS/Jana Rodenbusch)

Jakarta, CNN Indonesia --

Musim semi di Jepang selalu identik dengan hamparan bunga sakura dan tradisi piknik di bawahnya. Namun tahun ini, suasana romantis 'hanami' terasa sedikit berbeda. Bukan karena bunganya kurang indah, melainkan karena biaya yang harus dikeluarkan semakin tinggi.

Tradisi hanami, piknik bersama keluarga atau teman di taman saat bunga sakura bermekaran biasanya berlangsung pada akhir Maret hingga awal April. Taman-taman dan bantaran sungai dipenuhi tikar biru, kotak bekal, camilan, hingga minuman. Namun kini, semua itu datang dengan harga yang lebih mahal.

Lembaga riset swasta Dai-ichi Life Research Institute mencatat biaya makanan dan minuman untuk hanami naik signifikan. Indeks yang mereka susun menunjukkan harga kebutuhan piknik ini meningkat 25 persen sejak 2020.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekonom utama lembaga tersebut, Hideo Kumano, menjelaskan bahwa kenaikan ini dipicu oleh inflasi global dan pelemahan yen. "Hanami jelas terdampak tren inflasi global," ujarnya.

Untuk mengukur kenaikan tersebut, Kumano menganalisis harga rata-rata dari 14 item populer yang biasa dibawa saat hanami. Mulai dari onigiri (nasi kepal), bento, ayam goreng, keripik kentang, hingga bir.

Hasilnya, biaya hanami pada Februari tahun ini naik 4,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara jika dibandingkan dengan 2020, lonjakannya mencapai seperempat atau 25 persen.

Beberapa produk bahkan mengalami kenaikan yang jauh lebih tajam. Roti manis khas Jepang tercatat naik hingga 46,1 persen, disusul minuman bersoda sebesar 45,7 persen, dan onigiri sekitar 45 persen.

Kenaikan harga ini tidak lepas dari tekanan biaya bahan baku global. Jepang, yang selama bertahun-tahun mengalami deflasi, kini menghadapi inflasi yang meningkat sejak perang di Ukraina memicu lonjakan harga komoditas dunia.

Pelemahan nilai tukar yen juga memperparah situasi karena membuat biaya impor bahan baku semakin mahal. Meski begitu, laju inflasi inti Jepang sempat melambat menjadi 1,6 persen pada Februari, sebagian berkat subsidi energi dari pemerintah.

Di tengah kondisi ini, hanami tetap berlangsung. Masyarakat Jepang masih berkumpul di bawah pohon sakura, menikmati momen singkat yang hanya hadir setahun sekali. Hanya saja, kini mereka harus sedikit lebih bijak dalam mengatur isi keranjang pikniknya.

Tradisi boleh sama, tapi biaya menikmatinya tak lagi seperti dulu.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial