Jakarta, CNN Indonesia --
Pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan pada Minggu (12/4) pagi.
Perundingan maraton kedua negara selama 21 jam sejak Sabtu (11/4) gagal mencapai mufakat sehingga memperpanjang ketidakpastian akan gencatan senjata dua pekan yang telah berlangsung sejak Rabu (8/4).
Pembicaraan tatap muka perdana sejak revolusi Islam 1979 itu mengungkap perselisihan mendalam mengenai isu-isu krusial, termasuk program nuklir Iran dan Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut fakta-fakta negosiasi buntu antara AS dan Iran.
AS sebut Iran tolak setop program nuklir
Wakil Presiden AS JD Vance selaku pemimpin delegasi Washington mengatakan kepada wartawan pada Minggu pagi bahwa negosiasi mandek karena Iran menolak tuntutan AS, khususnya tentang penghentian sepenuhnya program nuklir Teheran.
"Kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya memperoleh senjata nuklir dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat memperoleh senjata nuklir," kata Vance.
Vance mengatakan Washington telah memperjelas "garis merah" mereka dan menyampaikan "penawaran terakhir dan terbaik" kepada Iran.
Ia pun menyampaikan hasil negosiasi kemarin merupakan "kabar buruk" bagi Iran.
Iran tegaskan punya kepentingan sah
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei sementara itu menyalahkan AS karena mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal.
Melalui unggahan di media sosial X, Baghaei menekankan keberhasilan proses diplomatik "bergantung pada keseriusan dan iktikad baik pihak lawan, menahan diri dari tuntutan berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum, serta penerimaan hak dan kepentingan sah Iran."
Baghaei mengakui bahwa dalam perundingan ini, Iran membahas sejumlah isu, antara lain Selat Hormuz, program nuklir, ganti rugi perang, pencabutan sanksi, dan penghentian sepenuhnya perang melawan Iran.
Ia pun menegaskan bahwa belum adanya kesepakatan tidak bisa dipandang sebagai kegagalan, karena Iran sendiri tidak muluk-muluk berharap pada AS yang notabene mengkhianati Teheran dua kali saat sedang negosiasi.
Pakistan desak AS-Iran tetap patuhi gencatan senjata
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mendesak AS dan Iran tetap mematuhi kesepakatan gencatan senjata usai pembicaraan damai kedua negara mandek.
Dalam pernyataan resmi, Dar menekankan bahwa sangat penting bagi kedua belah pihak untuk menunjung tinggi komitmen terhadap gencatan senjata, dan secara implisit memperingatkan risiko konflik baru jika gencatan senjata tersebut gagal.
"Kami berharap kedua belah pihak akan terus melanjutkan semangat positif untuk mencapai perdamaian dan kemakmuran berkelanjutan bagi seluruh kawasan dan sekitarnya," kata Dar, seperti dikutip Al Jazeera.
Dar kemudian menyampaikan komitmen Pakistan untuk terus berperan aktif dalam memfasilitasi dialog antara AS dan Iran.
Penyebab negosiasi gagal
Selat Hormuz, program nuklir Iran, hingga serangan di Lebanon menjadi beberapa topik panas yang jadi kendala dalam perundingan pada Sabtu.
AS ingin Iran berkomitmen untuk tidak lagi mengembangkan senjata nuklir. Iran sementara itu membantah mengembangkan senjata nuklir dan menegaskan hanya menggunakan nuklir untuk kebutuhan sipil.
Iran sendiri sudah menawarkan untuk menegosiasikan batasan aktivitas nuklirnya apabila semua sanksi terhadap mereka dicabut.
Lebih lanjut, jalur perdagangan di Selat Hormuz juga termasuk isu krusial yang bikin perundingan buntu.
Iran bersikeras ingin mengendalikan selat strategis tersebut, termasuk mengenakan biaya transit bagi kapal-kapal yang melintas. Sementara itu, AS ngotot Selat Hormuz harus dibuka dengan aman dan tanpa biaya apa pun.
Sejak perang pecah, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz. Selat Hormuz bertanggung jawab atas sekitar 20 persen minyak dan gas dunia.
Disrupsi pada Selat Hormuz telah mengakibatkan harga energi global melambung tajam sehingga banyak negara terpaksa berhemat gila-gilaan.
Para ahli mengatakan gangguan pada Selat Hormuz saat ini telah menyebabkan guncangan ekonomi terburuk sejak embargo minyak tahun 1973. Embargo tersebut mengurangi pasokan global sebesar 4,5 juta barel per hari.
Selain itu, gencatan senjata di Lebanon juga turut jadi isu yang ditekankan Iran ke AS. Iran ingin gencatan senjata mencakup semua front perlawanan termasuk Lebanon, yang saat ini masih di bawah bombardir Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran. Namun, Pakistan selaku mediator menegaskan Lebanon ikut masuk dalam kesepakatan.
(blq/dna)
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
2


























